Departemen Pertahanan AS (DoD) mendapat kecaman karena diduga menghukum Anthropic, sebuah perusahaan kecerdasan buatan, setelah berusaha membatasi penggunaan alat AI-nya oleh militer. Seorang hakim distrik AS, Rita Lin, menyuarakan keprihatinannya selama sidang pengadilan pada hari Selasa bahwa tindakan Departemen Pertahanan tampaknya merupakan “upaya untuk melumpuhkan” Anthropic, yang berpotensi melanggar hak Amandemen Pertama perusahaan tersebut.
Sengketa Mengenai Penerapan AI Militer
Anthropic telah mengajukan dua tuntutan hukum federal, mengklaim bahwa Departemen Pertahanan membalas mereka dengan menetapkan perusahaan tersebut sebagai risiko keamanan setelah mendorong pembatasan mengenai bagaimana AI-nya dapat digunakan oleh militer. Penunjukan ini secara efektif mempersulit Anthropic untuk berbisnis dengan kontraktor pemerintah, bahkan mereka yang mengerjakan proyek non-pertahanan.
Departemen Pertahanan, yang sekarang menyebut dirinya sebagai Departemen Perang (DoW), berpendapat bahwa tindakan tersebut diambil setelah menentukan bahwa alat AI Anthropic tidak lagi dapat dipercaya untuk berfungsi dengan andal selama operasi penting. Namun, Hakim Lin mempertanyakan apakah tindakan hukuman tersebut – sebutan yang biasanya ditujukan untuk musuh asing dan aktor yang bermusuhan – sebanding dengan kekhawatiran keamanan nasional yang disebutkan.
Pertarungan Hukum dan Pengawasan Publik
Anthropic sedang mencari perintah sementara untuk menghentikan penunjukan keamanan, dengan harapan dapat meyakinkan pelanggan yang ragu untuk terus bekerja dengan perusahaan dalam kondisi saat ini. Keputusan Hakim Lin atas perintah ini diperkirakan akan diambil dalam beberapa hari ke depan.
Perselisihan ini telah memicu perdebatan yang lebih luas mengenai peningkatan penggunaan AI oleh angkatan bersenjata dan apakah perusahaan teknologi harus tunduk pada pemerintah dalam menentukan bagaimana teknologi mereka diterapkan. Tindakan Departemen Pertahanan menimbulkan pertanyaan tentang keseimbangan antara keamanan nasional dan otonomi perusahaan di era kemajuan AI yang pesat.
Otoritas dan Eskalasi yang Dipertanyakan
Selama persidangan, seorang pengacara pemerintahan Trump mengakui bahwa Menteri Pete Hegseth tidak memiliki kewenangan hukum untuk melarang kontraktor militer menggunakan Anthropic untuk pekerjaan non-Departemen Pertahanan, meskipun Hegseth memposting hal tersebut di X (sebelumnya Twitter) bulan lalu. Pengakuan ini semakin memicu kecurigaan bahwa tindakan Departemen Pertahanan dimotivasi oleh tindakan pembalasan dan bukan karena alasan keamanan.
Pentagon mengklaim sedang melakukan transisi dari teknologi Anthropic, dengan rencana untuk menggantinya dengan alternatif dari Google, OpenAI, dan xAI, sambil menerapkan langkah-langkah untuk mencegah Anthropic merusak model AI-nya selama peralihan tersebut. Perusahaan membantah klaim ini, dengan menyatakan bahwa mereka tidak dapat memperbarui modelnya tanpa izin Pentagon.
Taruhannya
Kasus ini menyoroti hubungan kompleks antara perusahaan teknologi swasta dan lembaga pemerintah dalam pengembangan dan penerapan AI. Jika Anthropic berhasil dalam tantangan hukumnya, hal ini dapat menjadi preseden tentang bagaimana pemerintah memperlakukan perusahaan AI yang menolak penerapan teknologi mereka oleh militer. Keputusan dari pengadilan banding federal di Washington, DC, juga diperkirakan akan segera dikeluarkan, yang berpotensi memperjelas batasan hukum konflik ini.
Situasi ini menggarisbawahi bahwa seiring dengan semakin terintegrasinya AI ke dalam keamanan nasional, pertanyaan mengenai pengaruh perusahaan dan jangkauan pemerintah yang berlebihan akan menjadi semakin penting.























