Selama beberapa dekade, Bagian Pemungutan Suara di Departemen Kehakiman (DOJ) berperan sebagai pengawas penting bagi demokrasi Amerika. Didirikan setelah Undang-Undang Hak Pilih tahun 1965, unit khusus dalam Divisi Hak Sipil ini mempunyai misi penting: memastikan bahwa hak memilih setiap warga negara tetap terlindungi dari praktik diskriminatif.
Namun, perubahan baru-baru ini dalam pemerintahan telah mengubah secara mendasar karakter kantor ini, mengubahnya dari perisai bagi pemilih menjadi alat untuk bermanuver politik.
Dari “Permata Mahkota” hingga Penghapusan Institusional
Secara historis, Bagian Pemungutan Suara adalah salah satu departemen paling bergengsi dan kompetitif di DOJ. Pengacara seperti David Becker, yang bertugas di sana dari tahun 1998 hingga 2005, menggambarkannya sebagai pusat talenta hukum elit yang berdedikasi untuk menegakkan Undang-Undang Pendaftaran Pemilih Nasional dan Undang-Undang Help America Vote.
Pekerjaan tersebut sering kali bersifat granular dan tidak menarik, namun memiliki dampak yang sangat besar. Ini melibatkan:
– Menggugat praktik pemungutan suara yang diskriminatif di tingkat lokal dan negara bagian.
– Melindungi komunitas marginal dari pencabutan hak yang sistemik.
– Mewakili kepentingan federal di pengadilan untuk memastikan akses yang adil terhadap pemungutan suara.
Seorang mantan pengacara menceritakan bagaimana intervensi DOJ di sebuah kota kecil di Selatan berhasil memutus siklus pengucilan politik, yang mengarah pada terpilihnya orang kulit berwarna pertama di kota tersebut. Jenis pekerjaan hukum yang “tenang” inilah yang dikhawatirkan oleh para ahli akan hilang.
Pembersihan Besar-besaran: Mengganti Keahlian dengan Loyalitas
Transformasi bagian ini berlangsung cepat dan sistematis. Laporan menunjukkan eksodus besar-besaran pengetahuan institusional:
– Keberangkatan Massal: Pada hari pelantikan Donald Trump yang kedua, sekitar 30 pengacara bertugas di Bagian Pemungutan Suara. Dalam waktu tiga bulan, hampir semuanya telah dipindahkan atau dipaksa keluar.
– Kebangkitan Loyalis: Sebagai ganti pegawai negeri sipil dan ahli di bidangnya, pemerintah telah melantik kader loyalis politik.
– Pergeseran Misi: Meskipun mandat sebelumnya adalah untuk melindungi akses pemilih, kepemimpinan baru tampaknya fokus pada kebijakan yang menurut para kritikus melemahkan kepercayaan pemilu dan berpotensi membatasi hak memilih.
Pergantian ini bukan sekedar pergantian personel; ini adalah perubahan mendasar dalam misi DOJ. Dengan mengganti pengacara berpengalaman dengan sekutu politik, pemerintah telah secara efektif membongkar “permata mahkota” Divisi Hak Sipil.
Gesekan Hukum dan Desakan Data Daftar Pemilih
Ketegangan antara kepemimpinan baru dan upaya perlindungan demokrasi sudah mulai terjadi di pengadilan. Titik nyala utama melibatkan data daftar pemilih.
Pengacara DOJ saat ini telah melakukan tindakan hukum untuk mengakses daftar pemilih yang belum disunting dari berbagai negara bagian. Meskipun pemerintah menganggap hal ini sebagai masalah integritas pemilu, para kritikus memandangnya sebagai langkah strategis untuk memfasilitasi pembersihan pemilih secara massal.
Konflik telah sampai ke pengadilan:
Penjabat kepala bagian pemungutan suara DOJ baru-baru ini memberi tahu hakim bahwa lembaga tersebut belum menyentuh data daftar pemilih non-publik—sebuah klaim yang dilaporkan bertentangan dengan bukti.
Mengapa Ini Penting
Pembongkaran Bagian Pemungutan Suara mewakili lebih dari sekedar reorganisasi departemen; hal ini menandakan tren yang lebih luas dalam politisasi sistem negara. Ketika lembaga-lembaga yang dirancang untuk melindungi integritas pemilu malah digunakan untuk menantang legitimasi para pemilih, fondasi stabilitas demokrasi berada dalam bahaya.
Menjelang pemilu mendatang, tidak adanya pakar hukum berpengalaman dan non-partisan berarti berkurangnya pengawasan untuk mencegah praktik diskriminatif atau memastikan undang-undang pemilu diterapkan secara adil di seluruh negeri.
Kesimpulan
Penggantian sistematis para ahli karir dengan loyalis politik telah menghilangkan kemampuan Seksi Pemungutan Suara DOJ untuk melindungi hak-hak sipil. Pergeseran ini menjauhkan departemen tersebut dari peran historisnya sebagai penjaga pemungutan suara dan menuju peran yang melayani kepentingan politik lembaga eksekutif.






















